Arca dalam posisi berdiri, memakai udeng poleng, warna tubuh putih, memakai kalung poleng-poleng, memakai dan menggunakan kain berwarna putih kuning
Nama Pencipta
-
Negara Asal Pencipta
Indonesia
Gaya Pencipta
-
Tahun Pembuatan
-
Periode Pembuatan
-
Bahan Pembuatan
-
Teknik Pembuatan
-
Ornamen
-
Kondisi Fisik
Baik
Tingkat Kerusakan
Tidak Ada Kerusakan
Provinsi
BALI
Kabupaten
KABUPATEN BADUNG
Kecamatan
ABIANSEMAL
Desa/Kelurahan
DARMASABA
Alamat
Jl. Tanah Putih, Darmasaba, Kec. Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali 80352
Garis Lintang
8°34'39.2"S
Garis Bujur
115°12'14.1"E
Fungsi
-
Pemilik
Di kelola oleh Pengempon Pura Ntegana yang terdiri dari 500 sepaon
Sejarah Kepemilikan
Sejarah Kepemilikan benda ini adalah pengepon Pura Ntegana yang terdiri dari 500 sepaon yang tersebar di Desa Adat Tegal maupun Di luar Desa Adat Tegal secara turun temurun
Nilai Sejarah
Pada masa kedewatan, Shri Maharaja Sek Sukaranti memimpin Kerajaan Purusada. Beliau diturunkan oleh Sanghyang Siwa Raditya dan Sanghyang Wulan, serta memiliki putra bernama Shri Maharaja Purusada. Maharaja Purusada memiliki dua putra, Sanghyang Jayenrana dan Shri Nuk Wasir. Sanghyang Jayenrana menikah dengan Dewi Kekasih, sedangkan Shri Nuk Wasir dengan Sanghyang Nawengrum, menglahirkan Maharaja Sek Sukaranti.
Sek Sukaranti memiliki dua putra, Shri Nukruwa adalah Raja Gowan yang berperilaku seperti kera, dan Shri Nuk Wasininda yang senang berkelana dan akhirnya tiba di Bali. Kehadirannya membuat Bali tentram. Maharaja Jayengrat berniat kembali ke alam niskala, tetapi terjadi konflik dengan Ki Patih Dhemang Copong yang ingin menjamah Dewi Manik Galih. Dewi Manik Galih memutuskan untuk ikut masatya gni.
Setelah peristiwa tersebut, Maharaja Sek Sukaranti memerintahkan pembuatan dua patung untuk ditanam di candi. Abunya Dewi Manik Galih diupacarai menjadi Agama Tirtha dan dibuang ke laut. Rombongan yang dipimpin oleh Shri Sukaranti dan Ki Patih Dhemang Copong menuju Bali, dan di sana mendirikan Jong Karem (Desa Kapal) sebagai tempat pemujaan.
Terdengar sabda dari Bhatara Siwa dan Shri Maharaja Purusada untuk tidak melupakan pesannya. Setelah upacara penghayutan, masyarakat mendirikan tempat pemujaan yang dinamai Nteg Hana. Pura-pura lain juga didirikan di Bali oleh para pengikutnya, termasuk Pura Kentel Gumi. Hal ini memberikan kedamaian dan ketentraman bagi Bali hingga saat ini.
Nilai Budaya
Melalui Arca Prakanggo Anoman peninggalan sejarah, tradisi dan budaya masa lalu dapat terus hidup dan dihormati oleh generasi berikutnya. Piring-piring ini menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, menjaga tradisi agar tetap relevan dan dikenal.
Nilai Estetika
Arca Prakanggo Anoman peninggalan sejarah sering kali dibuat dari bahan berkualitas tinggi seperti porselen, keramik, atau tanah liat. Tekstur dan kualitas bahan ini memberikan kesan estetika yang tahan lama dan bernilai seni tinggi.
Nilai Ekonomi
Proyek pelestarian dan pemeliharaan Arca Prakanggo Anoman peninggalan sejarah sering kali didukung oleh dana dari pemerintah, organisasi non-pemerintah, atau sponsor swasta. Investasi ini tidak hanya membantu mempertahankan warisan budaya tetapi juga memberikan aliran dana ke dalam ekonomi lokal melalui proyek pelestarian.
Nama Pencipta
-
Negara Asal Pencipta
Indonesia
Gaya Pencipta
-
Tahun Pembuatan
-
Periode Pembuatan
-
Bahan Pembuatan
-
Teknik Pembuatan
-
Ornamen
-
Panjang
- m
Lebar
- m
Tinggi
- m
Berat
- Kg
Volume
- m3
Kondisi Fisik
Baik
Tingkat Kerusakan
Tidak Ada Kerusakan
Provinsi
BALI
Kabupaten
KABUPATEN BADUNG
Kecamatan
ABIANSEMAL
Desa/Kelurahan
DARMASABA
Alamat
Jl. Tanah Putih, Darmasaba, Kec. Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali 80352
Garis Lintang
8°34'39.2"S
Garis Bujur
115°12'14.1"E
Fungsi
-
Pemilik
Di kelola oleh Pengempon Pura Ntegana yang terdiri dari 500 sepaon
Sejarah Kepemilikan
Sejarah Kepemilikan benda ini adalah pengepon Pura Ntegana yang terdiri dari 500 sepaon yang tersebar di Desa Adat Tegal maupun Di luar Desa Adat Tegal secara turun temurun
Nilai Sejarah
Pada masa kedewatan, Shri Maharaja Sek Sukaranti memimpin Kerajaan Purusada. Beliau diturunkan oleh Sanghyang Siwa Raditya dan Sanghyang Wulan, serta memiliki putra bernama Shri Maharaja Purusada. Maharaja Purusada memiliki dua putra, Sanghyang Jayenrana dan Shri Nuk Wasir. Sanghyang Jayenrana menikah dengan Dewi Kekasih, sedangkan Shri Nuk Wasir dengan Sanghyang Nawengrum, menglahirkan Maharaja Sek Sukaranti.
Sek Sukaranti memiliki dua putra, Shri Nukruwa adalah Raja Gowan yang berperilaku seperti kera, dan Shri Nuk Wasininda yang senang berkelana dan akhirnya tiba di Bali. Kehadirannya membuat Bali tentram. Maharaja Jayengrat berniat kembali ke alam niskala, tetapi terjadi konflik dengan Ki Patih Dhemang Copong yang ingin menjamah Dewi Manik Galih. Dewi Manik Galih memutuskan untuk ikut masatya gni.
Setelah peristiwa tersebut, Maharaja Sek Sukaranti memerintahkan pembuatan dua patung untuk ditanam di candi. Abunya Dewi Manik Galih diupacarai menjadi Agama Tirtha dan dibuang ke laut. Rombongan yang dipimpin oleh Shri Sukaranti dan Ki Patih Dhemang Copong menuju Bali, dan di sana mendirikan Jong Karem (Desa Kapal) sebagai tempat pemujaan.
Terdengar sabda dari Bhatara Siwa dan Shri Maharaja Purusada untuk tidak melupakan pesannya. Setelah upacara penghayutan, masyarakat mendirikan tempat pemujaan yang dinamai Nteg Hana. Pura-pura lain juga didirikan di Bali oleh para pengikutnya, termasuk Pura Kentel Gumi. Hal ini memberikan kedamaian dan ketentraman bagi Bali hingga saat ini.
Nilai Budaya
Melalui Arca Prakanggo Anoman peninggalan sejarah, tradisi dan budaya masa lalu dapat terus hidup dan dihormati oleh generasi berikutnya. Piring-piring ini menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, menjaga tradisi agar tetap relevan dan dikenal.
Nilai Estetika
Arca Prakanggo Anoman peninggalan sejarah sering kali dibuat dari bahan berkualitas tinggi seperti porselen, keramik, atau tanah liat. Tekstur dan kualitas bahan ini memberikan kesan estetika yang tahan lama dan bernilai seni tinggi.
Nilai Ekonomi
Proyek pelestarian dan pemeliharaan Arca Prakanggo Anoman peninggalan sejarah sering kali didukung oleh dana dari pemerintah, organisasi non-pemerintah, atau sponsor swasta. Investasi ini tidak hanya membantu mempertahankan warisan budaya tetapi juga memberikan aliran dana ke dalam ekonomi lokal melalui proyek pelestarian.