Mendak Sari Ratu Agung

Objek Metadata Warisan Budaya Benda
Deskripsi

Mendak Sari adalah sebuah bale yang digunakan untuk mempersiapkan banten pada saat odalan di Pura dan menghias Ida Bhatra sebelum odalan di Pura

Nama Pencipta Desa Adat Tegal
Negara Asal Pencipta Indonesia
Gaya Pencipta Gaya Arsitektur Bali
Tahun Pembuatan 908 Masehi
Periode Pembuatan Kerajaan Purusada
Bahan Pembuatan Batu Paras, Batu Bata, kayu dan Ijuk
Teknik Pembuatan Ukiran Bali
Ornamen Canggah Wang dan Patung Garuda
Kondisi Fisik Baik
Tingkat Kerusakan Tidak Ada Kerusakan
Provinsi BALI
Kabupaten KABUPATEN BADUNG
Kecamatan ABIANSEMAL
Desa/Kelurahan DARMASABA
Alamat Jl. Tanah Putih, Darmasaba, Kec. Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali 80352
Garis Lintang 8°34'39.3"S
Garis Bujur 115°12'13.8"E
Fungsi Mendak sari ini memiliki fungsi sebagai tempat untuk menyimpan banten pada saat odalan di pura selain itu juga sebagai tempat menghias ida bhatara sebelum odalan
Pemilik Di kelola oleh Pengempon Pura Ntegana yang terdiri dari 500 sepaon
Sejarah Kepemilikan Sejarah Kepemilikan dari bangunan ini adalah pengempon yang terdiri dari 500 sepaon yang tersebar di Desa Adat Tegal maupun di luar Desa Adat Tegal secara turun temurun
Nilai Sejarah ada masa kedewatan, Shri Maharaja Sek Sukaranti memimpin Kerajaan Purusada. Beliau diturunkan oleh Sanghyang Siwa Raditya dan Sanghyang Wulan, serta memiliki putra bernama Shri Maharaja Purusada. Maharaja Purusada memiliki dua putra, Sanghyang Jayenrana dan Shri Nuk Wasir. Sanghyang Jayenrana menikah dengan Dewi Kekasih, sedangkan Shri Nuk Wasir dengan Sanghyang Nawengrum, menglahirkan Maharaja Sek Sukaranti. Sek Sukaranti memiliki dua putra, Shri Nukruwa adalah Raja Gowan yang berperilaku seperti kera, dan Shri Nuk Wasininda yang senang berkelana dan akhirnya tiba di Bali. Kehadirannya membuat Bali tentram. Maharaja Jayengrat berniat kembali ke alam niskala, tetapi terjadi konflik dengan Ki Patih Dhemang Copong yang ingin menjamah Dewi Manik Galih. Dewi Manik Galih memutuskan untuk ikut masatya gni. Setelah peristiwa tersebut, Maharaja Sek Sukaranti memerintahkan pembuatan dua patung untuk ditanam di candi. Abunya Dewi Manik Galih diupacarai menjadi Agama Tirtha dan dibuang ke laut. Rombongan yang dipimpin oleh Shri Sukaranti dan Ki Patih Dhemang Copong menuju Bali, dan di sana mendirikan Jong Karem (Desa Kapal) sebagai tempat pemujaan. Terdengar sabda dari Bhatara Siwa dan Shri Maharaja Purusada untuk tidak melupakan pesannya. Setelah upacara penghayutan, masyarakat mendirikan tempat pemujaan yang dinamai Nteg Hana. Pura-pura lain juga didirikan di Bali oleh para pengikutnya, termasuk Pura Kentel Gumi. Hal ini memberikan kedamaian dan ketentraman bagi Bali hingga saat ini.
Nilai Budaya Bale pura menunjukkan keahlian artistik yang tinggi dengan ukiran dan ornamen yang rumit. Mereka adalah contoh luar biasa dari seni dan kerajinan Bali yang kaya akan simbolisme dan estetika.
Nilai Estetika Setiap elemen desain bale pura memiliki makna simbolis yang mendalam, mencerminkan nilai-nilai spiritual dan keagamaan. Ini menambah lapisan makna pada keindahan visual, membuat setiap bale pura lebih dari sekadar struktur fisik.
Nilai Ekonomi Keindahan dan keunikan bale pura berperan dalam promosi kebudayaan yang menarik hibah dan dana dari berbagai organisasi, baik lokal maupun internasional. Ini mendukung pelestarian budaya sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Nama Pencipta Desa Adat Tegal
Negara Asal Pencipta Indonesia
Gaya Pencipta Gaya Arsitektur Bali
Tahun Pembuatan 908 Masehi
Periode Pembuatan Kerajaan Purusada
Bahan Pembuatan Batu Paras, Batu Bata, kayu dan Ijuk
Teknik Pembuatan Ukiran Bali
Ornamen Canggah Wang dan Patung Garuda
Panjang 5,4 m
Lebar 6,15 m
Tinggi 8,3 m
Berat - Kg
Volume - m3
Kondisi Fisik Baik
Tingkat Kerusakan Tidak Ada Kerusakan
Provinsi BALI
Kabupaten KABUPATEN BADUNG
Kecamatan ABIANSEMAL
Desa/Kelurahan DARMASABA
Alamat Jl. Tanah Putih, Darmasaba, Kec. Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali 80352
Garis Lintang 8°34'39.3"S
Garis Bujur 115°12'13.8"E
Fungsi Mendak sari ini memiliki fungsi sebagai tempat untuk menyimpan banten pada saat odalan di pura selain itu juga sebagai tempat menghias ida bhatara sebelum odalan
Pemilik Di kelola oleh Pengempon Pura Ntegana yang terdiri dari 500 sepaon
Sejarah Kepemilikan Sejarah Kepemilikan dari bangunan ini adalah pengempon yang terdiri dari 500 sepaon yang tersebar di Desa Adat Tegal maupun di luar Desa Adat Tegal secara turun temurun
Nilai Sejarah ada masa kedewatan, Shri Maharaja Sek Sukaranti memimpin Kerajaan Purusada. Beliau diturunkan oleh Sanghyang Siwa Raditya dan Sanghyang Wulan, serta memiliki putra bernama Shri Maharaja Purusada. Maharaja Purusada memiliki dua putra, Sanghyang Jayenrana dan Shri Nuk Wasir. Sanghyang Jayenrana menikah dengan Dewi Kekasih, sedangkan Shri Nuk Wasir dengan Sanghyang Nawengrum, menglahirkan Maharaja Sek Sukaranti. Sek Sukaranti memiliki dua putra, Shri Nukruwa adalah Raja Gowan yang berperilaku seperti kera, dan Shri Nuk Wasininda yang senang berkelana dan akhirnya tiba di Bali. Kehadirannya membuat Bali tentram. Maharaja Jayengrat berniat kembali ke alam niskala, tetapi terjadi konflik dengan Ki Patih Dhemang Copong yang ingin menjamah Dewi Manik Galih. Dewi Manik Galih memutuskan untuk ikut masatya gni. Setelah peristiwa tersebut, Maharaja Sek Sukaranti memerintahkan pembuatan dua patung untuk ditanam di candi. Abunya Dewi Manik Galih diupacarai menjadi Agama Tirtha dan dibuang ke laut. Rombongan yang dipimpin oleh Shri Sukaranti dan Ki Patih Dhemang Copong menuju Bali, dan di sana mendirikan Jong Karem (Desa Kapal) sebagai tempat pemujaan. Terdengar sabda dari Bhatara Siwa dan Shri Maharaja Purusada untuk tidak melupakan pesannya. Setelah upacara penghayutan, masyarakat mendirikan tempat pemujaan yang dinamai Nteg Hana. Pura-pura lain juga didirikan di Bali oleh para pengikutnya, termasuk Pura Kentel Gumi. Hal ini memberikan kedamaian dan ketentraman bagi Bali hingga saat ini.
Nilai Budaya Bale pura menunjukkan keahlian artistik yang tinggi dengan ukiran dan ornamen yang rumit. Mereka adalah contoh luar biasa dari seni dan kerajinan Bali yang kaya akan simbolisme dan estetika.
Nilai Estetika Setiap elemen desain bale pura memiliki makna simbolis yang mendalam, mencerminkan nilai-nilai spiritual dan keagamaan. Ini menambah lapisan makna pada keindahan visual, membuat setiap bale pura lebih dari sekadar struktur fisik.
Nilai Ekonomi Keindahan dan keunikan bale pura berperan dalam promosi kebudayaan yang menarik hibah dan dana dari berbagai organisasi, baik lokal maupun internasional. Ini mendukung pelestarian budaya sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Gambar Warisan

Foto Dari Berbagai Sudut

Nia Chatbot Meet
N.I.A