Pelinggih Pengapit Lawang Kiwa

Objek Metadata Warisan Budaya Benda
Deskripsi
Pelinggih Pengapit Lawang Kiwa adalah pelinggih di percayai oleh masyarakat sekitar yang memiliki fungsi sebagai pehalang mara bahaya dari luar Pura
Nama Pencipta Desa Adat Tegal
Negara Asal Pencipta Indonesia
Gaya Pencipta Gaya Arsitektur Bali
Tahun Pembuatan 908 Masehi
Periode Pembuatan Kerajaan Purusada
Bahan Pembuatan Batu Paras, kayu dan ijuk
Teknik Pembuatan Ukiran Bali
Ornamen Ukiran Bali
Kondisi Fisik Baik
Tingkat Kerusakan Tidak Ada Kerusakan
Provinsi tidak ada data
Kabupaten tidak ada data
Kecamatan tidak ada data
Desa/Kelurahan tidak ada data
Alamat
Garis Lintang 8°34'40.0"S
Garis Bujur 115°12'14.0"E
Fungsi Pelinggih Pengapit Lawang Tengen adalah pelinggih di percayai oleh masyarakat sekitar yang memiliki fungsi sebagai pehalang mara bahaya dari luar Pura
Pemilik Di kelola oleh Pengempon Pura Ntegana yang terdiri dari 500 sepaon
Sejarah Kepemilikan Sejarah Kepemilikan dari pelinggih ini adalah pengempon yang terdiri dari 500 sepaon yang tersebar di Desa Adat Tegal maupun di luar Desa Adat Tegal secara turun temurun
Nilai Sejarah ada masa kedewatan, Shri Maharaja Sek Sukaranti memimpin Kerajaan Purusada. Beliau diturunkan oleh Sanghyang Siwa Raditya dan Sanghyang Wulan, serta memiliki putra bernama Shri Maharaja Purusada. Maharaja Purusada memiliki dua putra, Sanghyang Jayenrana dan Shri Nuk Wasir. Sanghyang Jayenrana menikah dengan Dewi Kekasih, sedangkan Shri Nuk Wasir dengan Sanghyang Nawengrum, menglahirkan Maharaja Sek Sukaranti. Sek Sukaranti memiliki dua putra, Shri Nukruwa adalah Raja Gowan yang berperilaku seperti kera, dan Shri Nuk Wasininda yang senang berkelana dan akhirnya tiba di Bali. Kehadirannya membuat Bali tentram. Maharaja Jayengrat berniat kembali ke alam niskala, tetapi terjadi konflik dengan Ki Patih Dhemang Copong yang ingin menjamah Dewi Manik Galih. Dewi Manik Galih memutuskan untuk ikut masatya gni. Setelah peristiwa tersebut, Maharaja Sek Sukaranti memerintahkan pembuatan dua patung untuk ditanam di candi. Abunya Dewi Manik Galih diupacarai menjadi Agama Tirtha dan dibuang ke laut. Rombongan yang dipimpin oleh Shri Sukaranti dan Ki Patih Dhemang Copong menuju Bali, dan di sana mendirikan Jong Karem (Desa Kapal) sebagai tempat pemujaan. Terdengar sabda dari Bhatara Siwa dan Shri Maharaja Purusada untuk tidak melupakan pesannya. Setelah upacara penghayutan, masyarakat mendirikan tempat pemujaan yang dinamai Nteg Hana. Pura-pura lain juga didirikan di Bali oleh para pengikutnya, termasuk Pura Kentel Gumi. Hal ini memberikan kedamaian dan ketentraman bagi Bali hingga saat ini.
Nilai Budaya Pelinggih adalah tempat suci untuk memuja dewa-dewi dan roh leluhur. Ini mencerminkan keyakinan yang mendalam dan praktik keagamaan masyarakat Bali.
Nilai Estetika Pelinggih sering dihiasi dengan ukiran-ukiran rumit yang menggambarkan cerita-cerita mitologi, flora, dan fauna. Detail ukiran ini menunjukkan keahlian seni yang tinggi dan dedikasi dalam pengerjaannya.
Nilai Ekonomi Pembuatan dan pemeliharaan pelinggih melibatkan banyak pengrajin lokal yang terampil dalam ukiran, pahat, dan seni lainnya. Ini mendukung industri kerajinan tangan yang menjadi sumber pendapatan penting bagi para seniman dan pengrajin.
Nama Pencipta Desa Adat Tegal
Negara Asal Pencipta Indonesia
Gaya Pencipta Gaya Arsitektur Bali
Tahun Pembuatan 908 Masehi
Periode Pembuatan Kerajaan Purusada
Bahan Pembuatan Batu Paras, kayu dan ijuk
Teknik Pembuatan Ukiran Bali
Ornamen Ukiran Bali
Panjang 1 m
Lebar 1 m
Tinggi 3,5 m
Berat - Kg
Volume - m3
Kondisi Fisik Baik
Tingkat Kerusakan Tidak Ada Kerusakan
Provinsi tidak ada data
Kabupaten tidak ada data
Kecamatan tidak ada data
Desa/Kelurahan tidak ada data
Alamat
Garis Lintang 8°34'40.0"S
Garis Bujur 115°12'14.0"E
Fungsi Pelinggih Pengapit Lawang Tengen adalah pelinggih di percayai oleh masyarakat sekitar yang memiliki fungsi sebagai pehalang mara bahaya dari luar Pura
Pemilik Di kelola oleh Pengempon Pura Ntegana yang terdiri dari 500 sepaon
Sejarah Kepemilikan Sejarah Kepemilikan dari pelinggih ini adalah pengempon yang terdiri dari 500 sepaon yang tersebar di Desa Adat Tegal maupun di luar Desa Adat Tegal secara turun temurun
Nilai Sejarah ada masa kedewatan, Shri Maharaja Sek Sukaranti memimpin Kerajaan Purusada. Beliau diturunkan oleh Sanghyang Siwa Raditya dan Sanghyang Wulan, serta memiliki putra bernama Shri Maharaja Purusada. Maharaja Purusada memiliki dua putra, Sanghyang Jayenrana dan Shri Nuk Wasir. Sanghyang Jayenrana menikah dengan Dewi Kekasih, sedangkan Shri Nuk Wasir dengan Sanghyang Nawengrum, menglahirkan Maharaja Sek Sukaranti. Sek Sukaranti memiliki dua putra, Shri Nukruwa adalah Raja Gowan yang berperilaku seperti kera, dan Shri Nuk Wasininda yang senang berkelana dan akhirnya tiba di Bali. Kehadirannya membuat Bali tentram. Maharaja Jayengrat berniat kembali ke alam niskala, tetapi terjadi konflik dengan Ki Patih Dhemang Copong yang ingin menjamah Dewi Manik Galih. Dewi Manik Galih memutuskan untuk ikut masatya gni. Setelah peristiwa tersebut, Maharaja Sek Sukaranti memerintahkan pembuatan dua patung untuk ditanam di candi. Abunya Dewi Manik Galih diupacarai menjadi Agama Tirtha dan dibuang ke laut. Rombongan yang dipimpin oleh Shri Sukaranti dan Ki Patih Dhemang Copong menuju Bali, dan di sana mendirikan Jong Karem (Desa Kapal) sebagai tempat pemujaan. Terdengar sabda dari Bhatara Siwa dan Shri Maharaja Purusada untuk tidak melupakan pesannya. Setelah upacara penghayutan, masyarakat mendirikan tempat pemujaan yang dinamai Nteg Hana. Pura-pura lain juga didirikan di Bali oleh para pengikutnya, termasuk Pura Kentel Gumi. Hal ini memberikan kedamaian dan ketentraman bagi Bali hingga saat ini.
Nilai Budaya Pelinggih adalah tempat suci untuk memuja dewa-dewi dan roh leluhur. Ini mencerminkan keyakinan yang mendalam dan praktik keagamaan masyarakat Bali.
Nilai Estetika Pelinggih sering dihiasi dengan ukiran-ukiran rumit yang menggambarkan cerita-cerita mitologi, flora, dan fauna. Detail ukiran ini menunjukkan keahlian seni yang tinggi dan dedikasi dalam pengerjaannya.
Nilai Ekonomi Pembuatan dan pemeliharaan pelinggih melibatkan banyak pengrajin lokal yang terampil dalam ukiran, pahat, dan seni lainnya. Ini mendukung industri kerajinan tangan yang menjadi sumber pendapatan penting bagi para seniman dan pengrajin.

Foto Dari Berbagai Sudut

Nia Chatbot Meet
N.I.A